Kabupaten Sumenep, yang terletak di ujung timur pulau Madura, adalah wilayah yang unik. Kabupaten ini terdiri dari wilayah daratan dengan pulau-pulau yang tersebar dari 126 pulau secara total. Jumlah pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep hanya 48 pulau. Sumenep memiliki salad unik, salad selada. Berbeda dengan salad pada umumnya, Sumenep menggunakan lontong, singkong rebus, mentimun, irisan bawang merah goreng, sayuran rebus yang terdiri dari kubis, garter dan kubis brussel, dengan keripik singkong di atasnya.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat adalah Madura. Selain itu, ada beberapa daerah di Pulau Sapeken dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Bahasa yang digunakan adalah Bajo, Mandar, Makassar dan beberapa bahasa daerah dari Sulawesi. Sumenepp memiliki pelabuhan Kalianget dan melayani penumpang dari daratan Sumenep ke pulau-pulau dan sebaliknya. Sumenep juga memiliki bandara, yaitu Bandara Trunojoyo. Sumenep Arya Wiraraja memiliki stasiun bis di atas tanah.

Museum Keraton Sumenep
Museum Wisata Sumenep memiliki beberapa peninggalan bersejarah dari Istana Sumenep, yang sebagian besar berasal dari bangsawan Sumenep.
Museum Istana Sumenep. Museum Wisata Sumenep memiliki beberapa peninggalan bersejarah dari Istana Sumenep, yang sebagian besar berasal dari bangsawan Sumenep. Museum ini memiliki 480 koleksi yang dibagi menjadi beberapa jenis.

Masjid Sumenep
Masjid majemuk Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan Masjid Sumenep, adalah salah satu dari 10 masjid tertua dan memiliki arsitektur kepulauan yang unik. Masjid Jamik, objek wisata Sumenep, kini telah menjadi salah satu objek wisata di Pulau Madura. Arsitektur masjid itu sendiri sebagian besar dipengaruhi oleh budaya Cina, Eropa, Jawa, dan Madura. Salah satunya adalah di pintu masuk utama masjid yang memiliki gaya arsitektur budaya Cina.

Sedangkan untuk bangunan utama, lokasi wisata Sumenep secara keseluruhan dipengaruhi oleh budaya Jawa di atap dan budaya Madura dengan menodai pintu depan dan jendela masjid. Sementara interior masjid lebih rentan terhadap nuansa budaya Cina dalam mihrab. Masjid ini juga dilengkapi dengan menara yang desain arsitekturnya dipengaruhi oleh budaya Portugis. Menara ini memiliki ketinggian 50 meter di sebelah barat masjid yang dibangun oleh pemerintah Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma

Mengagumi Keindahan Ujung Timur Pulau Madura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *